Inilah tempat Favorit saya. Tempat terbaik untuk menikmati segala hitam
dan putih dalam kesunyian. Itulah
dua kalimat yang tertulis diatas selembar kertas dipangkuan seorang gadis.
Entah sudah berapa lama ia duduk di kursi itu. Pandangannya tak lepas dari
hamparan langit yang ada dihadapannya. Meski langit tak menampakkan keceriaan
sama sekali. Sesekali ia menggeser posisi duduknya diselingi helaan nafas yang
panjang dan dalam. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Wajahnya tampak sendu
seperti suasana langit dihadapannya, kelam karena gumpalan-gumpalan awan hitam.
Tiba-tiba ia tertunduk. Pundaknya berguncang semakin lama semakin keras. Beberapa
menit kamudian dia mengangkat kepalanya. wajahnya terlihat sembab. Hujan baru
saja pergi dari wajah sendunya. Ia kembali memandangi langit. Sebuah kata terus
mengganggu pikirannya beberapa hari terakhir ini. Cinta. Ya kata itulah yang mengganggu pikirannya. Ia masih saja
terus mencari-cari arti kata itu. Ia kebingungan dalam mendefinisikan cinta. Ia
pernah merasakan kerinduan yang mendalam pada seorang pria. Itu adalah cinta
menurut teman dekatnya. Terkadang ia merasa cemburu, teman dekatnya mengatakan
itu juga adalah cinta. Merasa senang meski hanya memandangi wajah “orang”,
merasakan sakit yang tak terhingga hingga rasanya ingin meledak semua itu
adalah cinta, lagi-lagi kata teman dekatnya seperti itu. Lalu apakah yang ia
rasakan saat ini juga adalah cinta. Wajah seseorang terus saja memenuhi
pikirannya enggan beranjak walau hanya sedetik. Ingin rasanya ia berteriak
sekeras mungkin tapi apa daya lagi-lagi yang keluar hanya butiran-butiran
bening, mengalir membentuk sebuah aliran sungai kecil diwajahnya. Kali ini ia
tak lagi menunduk untuk menyembunyikan sungai kecil itu. Ia membiarkannya
mengalir bebas. Sekilas ia teringat awal
perkenalannya dengan orang yang menciptakan kosa kata baru dalam otaknya.
Backpack Mini
Selasa, 08 Januari 2013
Kamis, 27 Desember 2012
Ada jiwa perantau
dalam darah orang bugis. Kalimat itu dulunya hanyalah sebuah kalimat tanpa
makna bagi saya. Itu dulu ketika saya masih berada ditanah kelahiranku. Kini
saya setuju dengan kalimat itu karena saya sendirilah yang mengalaminya. Yup.
Saat ini status saya sebagai mahasiswa rantau asal sulawesi yang sedang mencari
pengalaman hidup di kota malang, kota yang terletak dibagian barat Indonesia.
Banyak yang bertanya kenapa saya memilih tempat yang jauh dari tanah kelahiran?
Yah, Mungkin bagi sebagian orang hal itu berarti sebuah hal yang sulit karena
membutuhkan biaya besar dan harus mampu bertahan hidup tanpa orangtua. Tapi
bagi saya itu adalah sebuah kesempatan besar yang tak akan pernah saya
lewatkan, karena itu adalah kebebasan. Bebas untuk memilih, bebas untuk mencoba
hal-hal baru, dan bebas untuk mengatur masa depanku. Dan pemikiran itulah yang
mendasari semua yang kulakukan saat ini. Banyak orang yang berpikiran bahwa
kuliah berarti harus menjadi mahasiwa yang rajin duduk dibangku kelas dengan
IPK diatas rata-rata, bahkan harus mengejar gelar cumlaude saat kelulusan tapi
bagi saya kuliah tidak hanya sebatas nilai dan gelar karena itu tak akan mampu
membuat saya kuat. Bagi saya kuliah
berarti saatnya untuk mencoba hal-hal baru. Mengasah kepekaan, menguji nyali,
dan menguatkan mental dengan banyak hal seperti Jalan-jalan ke berbagai tempat
yang tak semua orang bisa kesana, bertemu dengan banyak orang, mengobrol
tentang banyak hal diluar materi kuliah, bergaul dengan berbagai kalangan, dan
aktifitas-aktifitas lainnya. Soal harapan dan cita-cita? Saya tidak
muluk-muluk. Sebagai mahasiswa tingkat akhir apalagi yang saya harapkan selain
bisa cepat mengenakan toga J.
Keinginan lainnya? Saya ingin backpackeran keliling pulau jawa-bali-NTB,
sebelum menanggalkan status mahasiswa. Mau join??? J
Minggu, 23 Desember 2012
My 29 Hours
Jalan-jalan. Hanya kata itu yang ada diotakku sejak
pagi tadi, gak mau pergi meski hanya sedetik. Kualihkan pandangan dari layar
komputer kearah tempat kertas-kertas berkop. Mataku tertuju pada 2 lembar
kertas yang diatasnya tertera kata undangan,
tanggal 20 desember. Wow, pucuk
dicinta ulam pun tiba. Lagi pengen jalan-jalan eh kebetulan ada undangan yang
harus dihadiri so kenapa harus mikir dua kali lagi, hehehe. Just take it J
Dan hari yang direncanakan pun tiba. Tanggal 20 pagi
aku meluncur ke rumah keduaku. Segera kuselesaikan semua “kerjaan-ku. Rencana awal saya akan berangkat jam 11.00. Tapi
karena sesuatu dan lain hal jadilah saya meninggalkan kota malang pada pukul
16.30 dengan menumpang sebuah bus yang akan mengantarkan saya dan seorang teman
menuju tempat tujuan dan petualangan baru pun dimulai.
Jam menunjukkan pukul 20.15 ketika bus berbelok dan
masuk kesebuah terminal. Sekilas kubaca “Terminal Tawangalun” yang berarti
welcome to the jungle oops maksud saya welcome to Jember J.
Hari itu adalah hari pertama kami menginjakkan kaki di kota Jember. Turun dari
bus kami menunggu “tuan rumah” yang
akan menjemput. Malam itu rasanya sangat
bebas, lepas tanpa beban. Yang terpikirkan hanya saat itu. Tak berapa lama kami
menunggu jemputan pun datang. Dengan mengendarai motor kami menuju ke Univ
tujuan. Di TKP sudah ramai oleh teman-teman lainnya. Senang rasanya bisa
bertemu dengan teman lama dan bagian yang paling menyenangkan tentunya adalah
bertemu dengan orang-orang baru ditempat baru. Mengenal mereka satu persatu,
ngobrol ngalor ngidul dan lontaran-lontaran pertanyaan remeh temeh.
Esok
hari....
Jam 09.00 kami sudah siap untuk bertemu orang-orang
baru lagi. Hari ini jadwal kami jalan-jalan ke markas teman-teman P. Setelah
lama menunggu teman-teman yang akan menemani kami akhirnya kami berangkat juga pada
pukul 12.30. Dalam perjalanan, hujan turun. Perjalanan sempat terhenti sejenak
namun kami akhirnya memutuskan untuk lanjut. Tiba di Markas kami sudah basah
kuyup L.
Meskipun demikian kami tetap disambut dengan ramah oleh teman-teman. Jarum jam
terus bergerak hingga tak terasa sudah menunjukkan pukul 15.00 yang berarti
kami harus mengakhiri perjalanan kami untuk sesi ini. Kami segera pamit agar
tak sampai dini hari di kota asal. Berat rasanya untuk berhenti hanya sampai
disini,masih banyak teman-teman yang ingin kutemui but what can we do. It’s
time to come home L. Dari Markas P kami langsung meluncur
menuju tawangalun. Bus meninggalkan kota Jember tepat pukul 15.20. Good Bye
Jember, good bye buddy. We will meet again in other time and may in other
place. We will visit jember in any other time. Thank you for all....
The end.....
The end.....
Selasa, 18 Desember 2012
![]() |
Senja |
Ketika hidup tak hanya
sekedar kata....
Hidup, begitu mudahnya kata itu terlontar dari mulut tapi apakah semudah itu untuk menjalaninya? Sebagian orang mengatakan tidak tapi sebagian lainnya justru dengan berani mengatakan hidup itu mudah. Yups, semua tergantung sikap orang dalam menghadapi setiap kejadian. Hidup menjadi sulit ketika hanya melihat sisi negatif dari semua kejadian yang ada tapi bisa menjadi begitu mudah dan indah ketika yang kita lihat sisi positifnya. So just enjoy it.... :)
Hidup, begitu mudahnya kata itu terlontar dari mulut tapi apakah semudah itu untuk menjalaninya? Sebagian orang mengatakan tidak tapi sebagian lainnya justru dengan berani mengatakan hidup itu mudah. Yups, semua tergantung sikap orang dalam menghadapi setiap kejadian. Hidup menjadi sulit ketika hanya melihat sisi negatif dari semua kejadian yang ada tapi bisa menjadi begitu mudah dan indah ketika yang kita lihat sisi positifnya. So just enjoy it.... :)
Langganan:
Postingan (Atom)
