Selasa, 08 Januari 2013


Inilah tempat Favorit saya. Tempat terbaik untuk menikmati segala hitam dan putih dalam kesunyian.  Itulah dua kalimat yang tertulis diatas selembar kertas dipangkuan seorang gadis. Entah sudah berapa lama ia duduk di kursi itu. Pandangannya tak lepas dari hamparan langit yang ada dihadapannya. Meski langit tak menampakkan keceriaan sama sekali. Sesekali ia menggeser posisi duduknya diselingi helaan nafas yang panjang dan dalam. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Wajahnya tampak sendu seperti suasana langit dihadapannya, kelam karena gumpalan-gumpalan awan hitam. Tiba-tiba ia tertunduk. Pundaknya berguncang semakin lama semakin keras. Beberapa menit kamudian dia mengangkat kepalanya. wajahnya terlihat sembab. Hujan baru saja pergi dari wajah sendunya. Ia kembali memandangi langit. Sebuah kata terus mengganggu pikirannya beberapa hari terakhir ini. Cinta. Ya kata itulah yang mengganggu pikirannya. Ia masih saja terus mencari-cari arti kata itu. Ia kebingungan dalam mendefinisikan cinta. Ia pernah merasakan kerinduan yang mendalam pada seorang pria. Itu adalah cinta menurut teman dekatnya. Terkadang ia merasa cemburu, teman dekatnya mengatakan itu juga adalah cinta. Merasa senang meski hanya memandangi wajah “orang”, merasakan sakit yang tak terhingga hingga rasanya ingin meledak semua itu adalah cinta, lagi-lagi kata teman dekatnya seperti itu. Lalu apakah yang ia rasakan saat ini juga adalah cinta. Wajah seseorang terus saja memenuhi pikirannya enggan beranjak walau hanya sedetik. Ingin rasanya ia berteriak sekeras mungkin tapi apa daya lagi-lagi yang keluar hanya butiran-butiran bening, mengalir membentuk sebuah aliran sungai kecil diwajahnya. Kali ini ia tak lagi menunduk untuk menyembunyikan sungai kecil itu. Ia membiarkannya mengalir bebas. Sekilas ia teringat awal perkenalannya dengan orang yang menciptakan kosa kata baru dalam otaknya.

Kamis, 27 Desember 2012


Ada jiwa perantau dalam darah orang bugis. Kalimat itu dulunya hanyalah sebuah kalimat tanpa makna bagi saya. Itu dulu ketika saya masih berada ditanah kelahiranku. Kini saya setuju dengan kalimat itu karena saya sendirilah yang mengalaminya. Yup. Saat ini status saya sebagai mahasiswa rantau asal sulawesi yang sedang mencari pengalaman hidup di kota malang, kota yang terletak dibagian barat Indonesia. Banyak yang bertanya kenapa saya memilih tempat yang jauh dari tanah kelahiran? Yah, Mungkin bagi sebagian orang hal itu berarti sebuah hal yang sulit karena membutuhkan biaya besar dan harus mampu bertahan hidup tanpa orangtua. Tapi bagi saya itu adalah sebuah kesempatan besar yang tak akan pernah saya lewatkan, karena itu adalah kebebasan. Bebas untuk memilih, bebas untuk mencoba hal-hal baru, dan bebas untuk mengatur masa depanku. Dan pemikiran itulah yang mendasari semua yang kulakukan saat ini. Banyak orang yang berpikiran bahwa kuliah berarti harus menjadi mahasiwa yang rajin duduk dibangku kelas dengan IPK diatas rata-rata, bahkan harus mengejar gelar cumlaude saat kelulusan tapi bagi saya kuliah tidak hanya sebatas nilai dan gelar karena itu tak akan mampu membuat saya kuat. Bagi saya kuliah berarti saatnya untuk mencoba hal-hal baru. Mengasah kepekaan, menguji nyali, dan menguatkan mental dengan banyak hal seperti Jalan-jalan ke berbagai tempat yang tak semua orang bisa kesana, bertemu dengan banyak orang, mengobrol tentang banyak hal diluar materi kuliah, bergaul dengan berbagai kalangan, dan aktifitas-aktifitas lainnya. Soal harapan dan cita-cita? Saya tidak muluk-muluk. Sebagai mahasiswa tingkat akhir apalagi yang saya harapkan selain bisa cepat mengenakan toga J. Keinginan lainnya? Saya ingin backpackeran keliling pulau jawa-bali-NTB, sebelum menanggalkan status mahasiswa. Mau join??? J

Minggu, 23 Desember 2012


My 29 Hours
Jalan-jalan. Hanya kata itu yang ada diotakku sejak pagi tadi, gak mau pergi meski hanya sedetik. Kualihkan pandangan dari layar komputer kearah tempat kertas-kertas berkop. Mataku tertuju pada 2 lembar kertas yang diatasnya tertera kata undangan, tanggal 20 desember. Wow, pucuk dicinta ulam pun tiba. Lagi pengen jalan-jalan eh kebetulan ada undangan yang harus dihadiri so kenapa harus mikir dua kali lagi, hehehe. Just take it J
Dan hari yang direncanakan pun tiba. Tanggal 20 pagi aku meluncur ke rumah keduaku. Segera kuselesaikan semua “kerjaan-ku. Rencana awal saya akan berangkat jam 11.00. Tapi karena sesuatu dan lain hal jadilah saya meninggalkan kota malang pada pukul 16.30 dengan menumpang sebuah bus yang akan mengantarkan saya dan seorang teman menuju tempat tujuan dan petualangan baru pun dimulai.
Jam menunjukkan pukul 20.15 ketika bus berbelok dan masuk kesebuah terminal. Sekilas kubaca “Terminal Tawangalun” yang berarti welcome to the jungle oops maksud saya welcome to Jember J. Hari itu adalah hari pertama kami menginjakkan kaki di kota Jember. Turun dari bus kami menunggu “tuan rumah” yang akan menjemput.  Malam itu rasanya sangat bebas, lepas tanpa beban. Yang terpikirkan hanya saat itu. Tak berapa lama kami menunggu jemputan pun datang. Dengan mengendarai motor kami menuju ke Univ tujuan. Di TKP sudah ramai oleh teman-teman lainnya. Senang rasanya bisa bertemu dengan teman lama dan bagian yang paling menyenangkan tentunya adalah bertemu dengan orang-orang baru ditempat baru. Mengenal mereka satu persatu, ngobrol ngalor ngidul dan lontaran-lontaran pertanyaan remeh temeh.
Esok hari....
Jam 09.00 kami sudah siap untuk bertemu orang-orang baru lagi. Hari ini jadwal kami jalan-jalan ke markas teman-teman P. Setelah lama menunggu teman-teman yang akan menemani kami akhirnya kami berangkat juga pada pukul 12.30. Dalam perjalanan, hujan turun. Perjalanan sempat terhenti sejenak namun kami akhirnya memutuskan untuk lanjut. Tiba di Markas kami sudah basah kuyup L. Meskipun demikian kami tetap disambut dengan ramah oleh teman-teman. Jarum jam terus bergerak hingga tak terasa sudah menunjukkan pukul 15.00 yang berarti kami harus mengakhiri perjalanan kami untuk sesi ini. Kami segera pamit agar tak sampai dini hari di kota asal. Berat rasanya untuk berhenti hanya sampai disini,masih banyak teman-teman yang ingin kutemui but what can we do. It’s time to come home L. Dari Markas P kami langsung meluncur menuju tawangalun. Bus meninggalkan kota Jember tepat pukul 15.20. Good Bye Jember, good bye buddy. We will meet again in other time and may in other place. We will visit jember in any other time. Thank you for all....
The end.....

Selasa, 18 Desember 2012

Senja


Ketika hidup tak hanya sekedar kata....
Hidup, begitu mudahnya kata itu terlontar dari mulut tapi apakah semudah itu untuk menjalaninya? Sebagian orang mengatakan tidak tapi sebagian lainnya justru dengan berani mengatakan hidup itu mudah. Yups, semua tergantung sikap orang dalam menghadapi setiap kejadian. Hidup menjadi sulit ketika hanya melihat sisi negatif dari semua kejadian yang ada tapi bisa menjadi begitu mudah dan indah ketika yang kita lihat sisi positifnya. So just enjoy it....
:)