Inilah tempat Favorit saya. Tempat terbaik untuk menikmati segala hitam
dan putih dalam kesunyian. Itulah
dua kalimat yang tertulis diatas selembar kertas dipangkuan seorang gadis.
Entah sudah berapa lama ia duduk di kursi itu. Pandangannya tak lepas dari
hamparan langit yang ada dihadapannya. Meski langit tak menampakkan keceriaan
sama sekali. Sesekali ia menggeser posisi duduknya diselingi helaan nafas yang
panjang dan dalam. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Wajahnya tampak sendu
seperti suasana langit dihadapannya, kelam karena gumpalan-gumpalan awan hitam.
Tiba-tiba ia tertunduk. Pundaknya berguncang semakin lama semakin keras. Beberapa
menit kamudian dia mengangkat kepalanya. wajahnya terlihat sembab. Hujan baru
saja pergi dari wajah sendunya. Ia kembali memandangi langit. Sebuah kata terus
mengganggu pikirannya beberapa hari terakhir ini. Cinta. Ya kata itulah yang mengganggu pikirannya. Ia masih saja
terus mencari-cari arti kata itu. Ia kebingungan dalam mendefinisikan cinta. Ia
pernah merasakan kerinduan yang mendalam pada seorang pria. Itu adalah cinta
menurut teman dekatnya. Terkadang ia merasa cemburu, teman dekatnya mengatakan
itu juga adalah cinta. Merasa senang meski hanya memandangi wajah “orang”,
merasakan sakit yang tak terhingga hingga rasanya ingin meledak semua itu
adalah cinta, lagi-lagi kata teman dekatnya seperti itu. Lalu apakah yang ia
rasakan saat ini juga adalah cinta. Wajah seseorang terus saja memenuhi
pikirannya enggan beranjak walau hanya sedetik. Ingin rasanya ia berteriak
sekeras mungkin tapi apa daya lagi-lagi yang keluar hanya butiran-butiran
bening, mengalir membentuk sebuah aliran sungai kecil diwajahnya. Kali ini ia
tak lagi menunduk untuk menyembunyikan sungai kecil itu. Ia membiarkannya
mengalir bebas. Sekilas ia teringat awal
perkenalannya dengan orang yang menciptakan kosa kata baru dalam otaknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar