Selasa, 08 Januari 2013


Inilah tempat Favorit saya. Tempat terbaik untuk menikmati segala hitam dan putih dalam kesunyian.  Itulah dua kalimat yang tertulis diatas selembar kertas dipangkuan seorang gadis. Entah sudah berapa lama ia duduk di kursi itu. Pandangannya tak lepas dari hamparan langit yang ada dihadapannya. Meski langit tak menampakkan keceriaan sama sekali. Sesekali ia menggeser posisi duduknya diselingi helaan nafas yang panjang dan dalam. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Wajahnya tampak sendu seperti suasana langit dihadapannya, kelam karena gumpalan-gumpalan awan hitam. Tiba-tiba ia tertunduk. Pundaknya berguncang semakin lama semakin keras. Beberapa menit kamudian dia mengangkat kepalanya. wajahnya terlihat sembab. Hujan baru saja pergi dari wajah sendunya. Ia kembali memandangi langit. Sebuah kata terus mengganggu pikirannya beberapa hari terakhir ini. Cinta. Ya kata itulah yang mengganggu pikirannya. Ia masih saja terus mencari-cari arti kata itu. Ia kebingungan dalam mendefinisikan cinta. Ia pernah merasakan kerinduan yang mendalam pada seorang pria. Itu adalah cinta menurut teman dekatnya. Terkadang ia merasa cemburu, teman dekatnya mengatakan itu juga adalah cinta. Merasa senang meski hanya memandangi wajah “orang”, merasakan sakit yang tak terhingga hingga rasanya ingin meledak semua itu adalah cinta, lagi-lagi kata teman dekatnya seperti itu. Lalu apakah yang ia rasakan saat ini juga adalah cinta. Wajah seseorang terus saja memenuhi pikirannya enggan beranjak walau hanya sedetik. Ingin rasanya ia berteriak sekeras mungkin tapi apa daya lagi-lagi yang keluar hanya butiran-butiran bening, mengalir membentuk sebuah aliran sungai kecil diwajahnya. Kali ini ia tak lagi menunduk untuk menyembunyikan sungai kecil itu. Ia membiarkannya mengalir bebas. Sekilas ia teringat awal perkenalannya dengan orang yang menciptakan kosa kata baru dalam otaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar